beritadunesia-logo

Pesta Lammang

A. Sejarah Singkat Tradisi Lemang

Di sebuah kampung terdapat sebuah sungai yang sangat dalam airnya. Karena kedalaman air sungai yang tak pernah surut, baik pada musim kemarau apalagi pada musim penghujan, maka penduduk mengangkat “Lantang” (dalam) sebagai nama kampung tersebut. Di sungai berdiam seekor buaya besar jelmaan dari seorang manusia sakti.

Pada suatu hari, seoarang penduduk kampung hendak menyeberangi sungai yang dalam itu. Namun, ia tak berani berenang ke seberang. Seekor buaya besar kemudian muncul dari dasar air dan menyuruhnya menaiki punggung buaya. Dan sampailah orang tersebut ke seberang. Buaya besar mengaku sebagai penjaga air di sungai itu, sehingga sungai itu tidak pernah kering dan penduduk tidak akan kekurangan air untuk mengairi sawahnya. Sang buaya memerintahkan kepada orang tersebut untuk mengadakan sebuah acara ritual sebagai tanda syukur atas jasa-jasanya.

Selain itu, sang buaya juga meminta agar setiap kali pengikutnya menyeberangi sungai, dia harus menimba air sungai dengan tangan kanannya sebanyak tiga kali sambil berkata “cucunnuja toa, tau lantangja” (aku cucumu, orang Lantang). Hal ini dimaksudkan agar sang buaya bisa mengenali anggota-anggotanya, karena bagaimanapun dia adalah seekor buaya yang bisa memangsa siapa saja.

Maka lahirlah satu kelompok di Desa Lantang yang melaksanakan semua hal yang telah di sepakati tersebut. Dengan kata lain, kelompok tersebut adalah keturunan-keturunan dari orang yang telah mengiyakan semua persyaratan yang diajukan oleh buaya. Mereka begitu menghargai mahluk berkepala besar ini sehingga mereka begitu enggan menyebut namanya secara kasar. Bagi mereka sebutan “Nenek irawa ri jeneka” lebih sopan dan mengandung unsur konotasi halus.
Meskipun generasi masyarakat selanjutnya tidak pernah melihat secara langsung di sungai itu, mereka begitu meyakini bahwa cerita ini benar-benar terjadi dan mahluk itu memang ada. Dan untuk menjaga kelangsungan hidup, mereka melakukan acara ritual sebagaimana yang diajarkan dan diwariskan oleh nenek moyangnya. Yaitu dengan membuat lemang dan memberikan sesajian.

Adapun dipilihnya lemang sebagai sajian pokok adalah karena hasil pertanian dan makanan pokok penduduk adalah beras. Sementara lemang atau kado bulo itu sendiri bahan dasarnya adalah beras. Karena hal ini jugalah sehingga acara ritual yg dilakukan oleh masyarakat Lantang lebih lazim disebut dengan istilah Alammang (tradisi lemang).
 

B. Rangkaian Pelaksanaan Tradisi Lemang
Lemang merupakan salah satu jenis makanan khas penduduk Desa Lantang, Kabupaten Takalar. Lemang terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan sari kelapa kemudian dibakar.
Adapun susunan pelaksanaan tradisi lemang adalah sebagai berikut:

1. Ammolong Bulo
Seminggu sebelum pembuatan lemang diselenggarakan, penduduk berlomba-lomba ke hutan untuk mengumpulkan beberapa batang bambu. Bagi mereka yang memiliki kebun bambu, tidak perlu bersusah payah masuk hutan. Namun ada juga sebagian lainnya hanya membeli.

Bambu-bambu yang telah terkumpul , kemudian dipotong sebanyak bagian-bagiannya. Untuk hasil potongan yang bagus, dibutuhkan tehnik-tehnik dan keahlian tertentu. Apabila tehniknya salah, bambu tersebut akan terbelah dan tentu saja tidak bisa digunakan.

Potongan-potongan bambu tersebut kemudian dibersihkan bagian dalamnya dan dilapisi daun pisang.
 

2. Ammone
Ammone adalah mengisi potongan-potongan bambu yang sudah dilapisi daun pisang dengan beras yang dicampur dengan sari kelapa. Kegiatan ammone berlangsung hingga semua potongan-potongan bambu terisi penuh.

Untuk hasil yang lebih baik, biasanya sebelum dimasukkan ke dalam bambu, beras ketan dikukus terlebih dahulu selama beberapa menit.
 

3. Attunu
Attunu yaitu membakar potongan-potongan bambu yang telah terisi penuh. Bambu-bambu disusun berjejer mengelilingi kobaran-kobaran api hingga isinya benar-benar matang, tempat dibakarnya bambu-bambu itu disebut pattunuang. Proses pembakaran ini biasanya berlangsung dari sore hari sampai larut malam. Bahkan ada yang sampai keesokan harinya.
 

4. Angngerang Bungasa
Dalam satu rumah tangga, harus memberikan satu lemang kepada pinati (orang yang mendapat kepercayaan sebagai pengurus acara ritual tradisi lemang). Lemang yang diserahkan adalah hasil awal pembuatan lemang yaitu sepotong bambu yang pertama kali diisi (bungasa). Proses pembawaan dan penyerahan lemang inilah yang dinamakan angngerang bungasa.
 

5. Appasorong
Ini adalah acara terakhir dari penyelenggaraan tradisi lemang dan merupakan bagian terpenting karena appasorong adalah upacara pemberian seajian kepada Patanna Jene (Pemilik Air = Nene I rawa ri Jene).

Untuk melaksanakan upacara ritual Appasorong, pertama-tama Pinati membuat sebuah rakit menyerupai bentuk rumah dengan ukuran kecil, dan bahannya berasal dari batang pisang. Kemudian dalam rakit itu diletakkan satu lemang bungasa dari pinati, songkolo, satu ekor ayam bakar setengah matang, sebutir telur dan Parappo. Adapun Parappo ini terdiri dari sebutir telur mentah, daun sirih, buah pinang dan kapur bubuk.

Rakit yang telah ditata rapi dihanyutkan di hulu sungai yang diyakini sebagai tempat kediaman sang buaya. Kegiatan ini dilakukan sebelum waktu sholat Jumat. Setelah itu diadakanlah beberapa jenis permainan rakyat yaitu ; appalanra (menjaring ikan) dan appabatte jangang (mengadu ayam) di tepian sungai. Permainan ini semata-mata untuk menyenangkan hati penjaga air tersebut.

Pada hari itu hampir seluruh penduduk kampung berkunjung ke sungai itu. Anak-anak dan para pemuda kampung berenang di dalam air tanpa merasa takut akan dimakan oleh buaya. Menilik dari kegiatan berenang massal ini, maka masyarakat luar menamai sungai tersebut dengan istilah permandian.

http://www.takalarkab.go.id